Sabtu, 29 Mei 2010

Tragedi Heysel, Dimaafkan Namun Tak Dilupakan

Tragedi Heysel merupakan salah satu sejarah kelam dalam sepakbola Eropa. Pihak-pihak yang terlibat di dalamnya sudah saling memaafkan, tapi tragedi ini tetap tidak dilupakan.

29 Mei 25 tahun silam, partai final Piala Champions yang seharusnya merupakan laga agung, tertutup noda hitam bernama kerusuhan.

Keributan antara fans Liverpool dan Juventus, meminta korban jiwa. 39 orang, kebanyakan adalah suporter Juventus harus meregang nyawa. Selanjutnya 14 pendukung The Reds ditangkap dan dikenai tuduhan pembunuhan. Tak hanya itu, UEFA menghukum klub-klub Inggris dari kompetisi Eropa selama lima tahun.

"Waktu itu, musim panas tahun 1985, saya masih bermain dan belum berusia 30 tahun. Sekarang saya bukan lagi pemain yang tampil di laga 29 Mei 1985 itu. Saya presiden UEFA dan saya tak bisa membiarkan kejadian serupa terulang," seru Michel Platini.

Ketika tragedi terjadi, pria Prancis itu berseragam Juventus. Ia mencetak satu-satunya gol dalam laga itu yang membawa tim Hitam-Putih menjadi juara. "Keamanan di stadion dan perang melawan hooliganisme merupakan pekerjaan terpenting saya," lanjut Platini di Associated Press.

"Ketika itu banyak orang yang datang untuk menyaksikan pertandingan, namun mereka tak pernah pulang. Kami semula berpikir laga itu berlangsung seperti pertandingan sepakbola sebagaimana biasa. Tetapi ternyata tidak. Laga itu tidak hanya berakhir setelah 90 menit tapi terus berlangsung dalam hidup kami dan akan selalu terus begitu," lanjut gelandang Juve periode 1980-an itu.

Tragedi Heysel memang terus diingat. Namun itu tidak bertujuan untuk mempertajam permusuhan antara suporter khususnya Liverpool dan Juventus.

Di situs resmi Liverpool yang diakses Sabtu (29/5/2010) malam WIB, terdapat gambar dua tangan yang saling bersalaman. Satu tangan berwarna merah dengan latar belakang merah, sementara satu lagi berwarna putih dengan latar belakang hitam, yang menggambarkan warna seragam antara The Anfield Gank dan La Vacchia Signora

Di samping kanan tangan yang bersalaman itu terdapat tulisan "In Memoria E Amicizia, May 29 1985", yang berarti "Dalam Kenangan dan Persahabatan, 25 Mei 1985".

Memperingati tragedi itu, suporter Liverpool dan Juventus berencana menggelar laga persahabatan di Kirkby Academy yang terletak di kota asal grup musik The Beatles itu.

"Kami berusaha untuk membuat Reds dan Bianconeri bersatu 25 tahun setelah Heysel. Kami sudah berdiskusi panjang dengan sejumlah pihak tentang sebuah event yang bakal mengirimkan pesan positif untuk fans Juve dan Liverpool, dan kami menilai bahwa peringatan ke-25 Tragedi Heysel adalah saat yang tepat," ujar suporter Juve Serafino Ingardia di situs resmi Liverpool.

"Saya sudah berbicara Andrea Lorentini, yang kehilangan orang tuanya dalam tragedi itu dan kini Lorentini menjawabt sebagai ketua 'Comitato Heysel'. Dia mengatakan kepada saya bahwa ide laga persahabatan bakal mendapat sambutan hangat poleh keluarga. Dia sangat tersentuh ketika mengetahui bahwa fans Liverpool dan Juventus akan mengingat korban dalam acara ini," lanjut Ingardia.

Sementara itu lonceng di Balaikota Liverpool akan dibunyikan 39 kali bertepatan dengan waktu peristiwa kelam itu terjadi.

Tragedi Heysel memang pahit. Kedua kubu telah berdamai. Tapi segala kepahitan dan konsekuensi yang terjadi akibat peristiwa tragis itu juga tetap diingat agar menjadi pelajaran bagi pihak-pihak mana pun di waktu-waktu mendatang.

"Kami ingin menunjukkan persahabatan antara suporter kedua klub dengan mengenang mereka yang tewas dalam malam tragedi 25 tahun silam. Kami juga ingin menunjukkan pada masyarakat Italia bahwa kami tidak melupakan kejadian itu," tukas Dave Usher, salah satu Liverpudlian.
Sumber : http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2010/05/29/230000/1366011/73/tragedi-heysel-dimaafkan-namun-tak-dilupakan?b99110270

Tidak ada komentar:

Posting Komentar